Sabtu, 03 Desember 2011

Pentingnya Kepemimpinan Kristen yang Visioner


       Kepemimpinan yang sehat akan menghasilkan suatu organisasi yang sehat. Dan, organisasi yang sehat merupakan suatu organis yang bertumbuh dan bergerak serta semua komponennya berfungsi sebagaimana mestinya dan akhirnya membuahkan hasil yang baik bagi organisasi itu sendiri dan berdampak bagi lingkungannya.
     Kepemimpinan yang sehat dan organis tentunya didukung oleh beberapa faktor pendukung penting sebagai roda yang menggerakkan kepempimpinan itu ke suatu arah yang dituju bersama. Salah satu faktor penting dalam kepemimpin yang sangat menentukan berhasil tidaknya kepemimpinan suatu organisasi atau gereja, yaitu visi dari seorang pemimpin. Hendry Kissinger mengatakan, “Seorang pemimpin adalah seorang individu pencipta visi yang menggerakkan orang-orang dari tempat dimana mereka berada ke tempat dimana mereka belum pernah ada. Dengan visi maka suatu organisasi akan bergerak dengan pasti pada apa yang dicita-citakan, namun sebaliknya bisa visi tidak dimunculkan oleh pemimpin maka tentunya arah gerak suatu organisasi akan terombang-ambing. Amsal mengatakan demikian, “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat” (Amsal 29:18). ‘Wahyu’ ‘penglihatan’, ‘mimpi’, itulah yang tertulis dalam Alkitab. Dan apa yang dikatakan Alkitab itu benar. Seorang pemimpin harus punya visi. Eka Darma Putera, menggambarkan ketiadaan pemimpin yang punya visi sebagai suatu keadaan yang bergerak tanpa arah, serta sibuk dengan diri, tanpa makna. Dan, hasilnya hanyalah kepenatan, tanpa tahu untuk apa.            Tulisan ini akan berusaha menganalisa pemahaman lebih mendalam mengenai visi dan pemimpin yang visioner kemudian mencoba mengemukakan betapa pentingnya visi itu bagi seorang pemimpin yang visioner.

Pemahaman Awal tentang Visi
            Lovett H. Weems, Jr. mengatakan bahwa visi itu adalah sebuah mimpi atau gambaran kemungkinan ke depan. “It is a dream. It is a picture of a preferred future”. Lebih jelasnya bisa dikatakan demikian, “visi adalah suatu ihwal melihat, suatu ihwal mendapat persepsi tentang sesuatu yang imajinatif, yang memadukan pemahaman yang mendasar tentang situasi masa kini dengan pandangan yang menjangkau jauh ke depan”. Visi menunjukkan suatu pandangan sekilas dari masa depan yang kita inginkan dan yang kita pikir seharusnya demikian.
            Berdasarkan kharakternya, kita juga bisa memberikan satu konsep aktual mengenai visi. Karakteristik visi dari Kouzes dan Posner seperti dikutip oleh Wafford, mengatakan bahwa, Visi berasal dari kata yang secara literal “melihat”. Tidak ada kata yang lebih baik untuk menjelaskan kemampuan melihat ke depan (forward-looking) dan memahami potensi-potensi yang ada di masa depan (foresighted). Jadi, visi mengandung pengertian sebagai suatu orientasi masa depan. Sebuah visi adalah gambaran tentang apa yang bisa terjadi. Walt Callestad mengatakan, “The future will be what you envision it to be”. Artinya, visi memproyeksikan keunikan dari suatu kondisi di masa depan, menentukan masa depan seperti apa yang kita harapkan demikian. Visi menyajikan gambaran perubahan dari suatu organisasi dan mendorong dilakukannya tindakan menuju ke arah perubahan yang lebih baik.

Sumber Visi
            Bob Gordon, menjelaskan pandangannya bahwa dalam kekristenan, visi datangnya dari Tuhan dan merupakan pekerjaan Tuhan di dalam seseorang. Roh Tuhan yang bekerja dalam diri seseorang yang didiami-Nya pada saat-saat perjumpaannya dengan Tuhan. Dia-lah yang menciptakan visi itu dan kita tinggal menerimanya saja. Bishop Rueben P. Job mengatakan bahwa, “The vision is a gift from God. It’s the reward of the disciplined, faithful, and pantient listening to God”. Visi merupakan pemberian dari ‘mata iman’ untuk melihat yang tidak kelihatan, untuk mengetahui apa yang tidak mampu diketahui, dan memikirkan apa yang tidak mampu dipikirkan. Lalu, visi itu menjadi titik temu atau sasaran – arah gerak kita sebagai umat-Nya.
            Adanya visi Tuhan, mendorong kita melangkah maju menuju sasaran yang termuat di dalam visi-Nya. Kalau seorang pemimpin tidak mempunyai visi dari Tuhan, ia akan ‘mandek’ dan ‘mati’. Jadi, Visi bukan hasil dari pengamatan kita tentang apa yang perlu dilakukan atau apa yang ingin dicapai, melainkan suatu petunjuk ilahi yang ditanggapi oleh manusia dan Dia yang memanggil manusia untuk mulai bertindak.  Visi dari Tuhan merupakan panggilan bagi manusia. Panggilan Tuhan adalah panggilan yang efektif, artinya bahwa visi Allah yang ia tanamkan dalam diri seorang pemimpin pasti terlaksana. Itu sebabnya penting bagi seorang pemimpin untuk mendapatkan visi yang bersumber dari Allah sendiri.
            Poin penting selanjutnya ialah, visi timbul karena adanya hati yang terbeban untuk mengetahui serta melakukan kehendak Tuhan dan untuk menjadi apa pun yang dikehendaki Tuhan. Dan, tujuan visi Allah tidak lain adalah untuk membangun tubuh Kristus, dimana Dia adalah kepala kita. Dan kepala memberikan kita visi dengan perintah yang sangat jelas. Di sinilah letak perbedaan seorang pemimpin kristiani dengan pemimpin sekuler. Kekristenan selalu berawal dari Allah, Allah yang mengerjakan bagi umat-Nya dan Allah yang menuntun dalam mencapai visi itu untuk membangun tubuh Kristus. Sedangkan pemimpim sekuler lebih melihat pada fenomena-fenomena dan kecenderungan-kecenderungan yang lebih baik ke depan. Itu biasanya berasal dari dalam diri manusia, bukan pewahyuan ilahi. Serta tujuan akhir, dilihat hanya untuk keperluan kepuasan, kebaikan manusia saja.

Pemimpin yang Visioner
            John Maxwell mengatakan demikian, “Dalam hukum kepercayaan, sang pemimpin harus menemukan impiannya (visi) baru pengikutnya. Tetapi, pengikut menemukan pemimpinnya baru impiannya”. Artinya pertama-tama dalam diri pemimpin harus tertanam visi Allah dalam dirinya, dan pengikut pertama-tama tidak mau tahu tentang visi pemimpinnya melainkan mereka hanya ingin “seorang pemimpin” yang dapat dipercaya. Itulah sebabnya tanggungjawab menjadi pemimpin yang visioner sangat ditekankan dan diharapkan ada di dalam diri setiap pemimpin. Artinya seorang pemimpin tidak boleh mengharapkan visi itu datangnya dari pengikutnya, melainkan dia sendiri yang harus menemukan visi itu dan membagikannya bagi pengikutnya untuk dicapai bersama-sama.
             Dilihat dari sudut pandang kepemimpinan motivasional, Pemimpin disebut visioner atau pemimpin yang punya visi yaitu jika dia adalah orang yang imajinatif dan aktif merancang strategi sampai suatu hari kelak inovasinya akan sesuai dengan kebutuhan pelanggan di masa depan dan mendatangkan untung besar. Bila seorang pimpinan telah menawarkan sebuah visi kepada timnya, artinya dia telah membuat sebuah gambaran mental akan masa depan yang makmur bagi mereka, menciptakan rasa memahami inspirasi dan harapan diantara para anggota tim dan memotivasi mereka demi berjuang untuk mencapai visi itu. Jadi, kepemimpinan yang visioner mutlak diperlukan namun tidak hanya sampai di situ, melainkan ia juga harus mampu merancang strategi untuk mencapai visi itu.

Pentingnya Visi Bagi Pemimpin Visioner
            Andreas Harefa, mengomentari demikian, “Sosok seorang pemimpin visionaris adalah orang yang mampu melihat ‘status guo’ dan kemampanan yang ada tidak sesuai dengan kehendak Allah; mampu melihat sebuah ide atau impian tentang masa depan yang secara mendasar lebih baik, lebih manusiawi, dan lebih diperkenankan oleh Tuhan sebagai sebuah kenyataan yang mungkin diciptakan lewat perjuangan dalam ketaatan kepada Allah; memiliki minat dan perhatian yang amat besar terhadap potensi manusia yang ada, yang mengejar kesempurnaan sebagai ciptaan Allah; mengambil inisiatif dengan menerima tanggungjawab untuk melaksanakan perubahan yang diyakini sebagai panggilan hidup di dunia.” Beranjak dari kondisi yang seperti inilah, seorang pemimpin visioner menempatkan visi itu sebagai tumpuan kaki untuk melangkah keluar dari status guo, dan mencapai mimpi bersama dengan kelompok organisasi yang dipimpinnya. Oleh sebab itu seorang pemimpin tidak boleh tidak, harus punya visi bila ingin menjadi pemimpin yang baik dan membawa perubahan bagi kelompok yang dipimpinnya. Oleh sebab itu, visi mutlak penting bagi kepemimpinan.

1.      Visi Menggerakkan Organisasi/ Gereja yang Dipimpin.
            Bergerak artinya berpindah dari apa yang ada hari ini menuju ke masa depan. Sebuah visi yang besar bila dibagikan oleh seorang pemimpin bagi para anggotanya dengan baik, akan menggerakkan mereka untuk mengambil tindakan aktif di dalam visi itu. Seorang tokoh terkemuka,  Dr. Martin Luther King Jr. yang berdiri di Tangga Lincoln Memorial, berbicara di depan 250.000 orang. Pada waktu berbicara, dia menyampaikan sebuah visi. Dia berbicara mengenai harapan masa depan yang lebih baik, tidak hanya untuk orang kulit hitam Amerika, tetapi untuk semua orang Amerika. Dia menyatakan demikian, “Saya memiliki sebuah Impian (I have a dream).” Dia menyatakan visinya dengan jelas, dengan cara yang bersemangat, optimis, dan membuat orang lain juga merasakan semangat yang sama, impian dan visinya itu telah menggerakkan bangsa itu.
            Visi yang menarik akan menantang anggota tim untuk melakukan suatu perubahan besar yang bergerak ke arah yang lebih baik. Visi haruslah membawa pada satu perubahan dan menjadi impian bagi banyak orang. Visi menjadi jawaban bagi kegelisahan individu terhadap keinginan untuk mengalami perubahan. Hanya dengan visi yang seperti inilah suatu badan atau organisasi akan bergerak dengan penuh kerelaan dan pengharapan penuh untuk mencapai perubahan.
            Keberhasilan suatu organisasi atau gereja dalam menggerakkan anggota tim, bergantung sejauhmana semangat dan kerinduan dari visi itu menginsipirasi orang lain untuk melakukan tindakan. Sebesar apa suatu organisasi mengalami pergerakan ditentukan oleh sebesar apa visi yang ditanamkan bagi organisasi. Tidak  ada perubahan yang besar yang melebihi visi yang dicita-citakan bersama. Martin Lither King berhasil menggerakkan bangsanya, karena ia memiliki visi yang cukup besar untuk perubahan bagi bangsanya. Dan, pergerakan yang terjadi tidak melampaui dari apa yang diimpikan olehnya terjadi atas bangsa Amerika. Artinya tidak ada pergerakan tak terduga yang melebihi dari apa yang pernah dicita-citakan bersama. visi menentukan pergerakan dan arah gerak suatu organisasi.

2.      Visi Menentukan Tujuan dan Tujuan Menyatakan Arah dan Sasaran Sebuah Organisasi.
            Bob Gordon mengatakan, “Ketiadaan visi akan membawa orang-orang hanyut ke dalam keberadaan yang tanpa arti, tanpa tujuan dan tidak efektif”. Oleh sebab itu visi sangat penting untuk memberi petunjuk. Memungkinkan kita mengetahui kemana kita akan melangkah dan apa yang hendak kita capai. Wafford, mengungkapkan bahwa visi seumpama gyros (semacam kompas) yang menentukan suatu arah yang benar bagi organisasi. Dengan visi yang jelas, maka ke sanalah segala usaha diberdayakan dan difokuskan.
            Visi memberikan gambaran yang jelas tentang kondisi yang ingin dicapai oleh sebuah organisasi. Sebuah visi memproyeksikan keunikan dari suatu kondisi di masa depan. Arah yang specifik dan yang dapat dikenali, tidak berubah atau berbelok secara tak terduga, mempermudah dalam pencapaian sasaran. Sebuah visi memiliki cara yang unik untuk mengarahkan gerakan organisasi secara positif. Visi memberikan gambaran mental yang sesuai buat kita dan membuat orang-orang tetap memiliki “gambaran besar”. Visi menentukan peta perjalanan untuk menuntun mengarahkan kita. Kita tidak akan pernah tahu ke mana kita harus melanjutkan perjalanan jika kita tidak tahu kemana kita akan pergi. Visi menentukan arah perginya sebuah organisasi.
            Kemudian, visi itu juga ibarat sebuah magnet, artinya bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh suatu organisasi mendapat arahan dari visi. Visi menegaskan aksi seseorang atau suatu organisasi dan visi menjadi inti (core) sasaran yang hendak dicapai. Arah gerak organisasi menjadi terarah, karena dikendalikan oleh visi yang ada, dan arah yang dicapai tidak lain adalah mewujudkan visi itu dalam kenyataan yang sesungguhnya.
            Itu sebabnya, seorang pemimpin visioner harus bisa tampil di depan dan mendeklarasikan visi organisasi itu, memimpin mereka, mendorong, mengarahkan dengan tetap bersandarkan pada visi yang diyakini bersama.

3.      Visi Memberi Motivasi dan Harapan Bagi Organisasi
            Kesatuan sebuah group yang dihadirkan dalam sebuah ide di dalam visi, bukan hanya disebabkan oleh kharisma seorang pemimpin atau loyalitas suatu organisasi. Visi menghadirkan pemahaman umum dari realitas dan masa depan. Dan juga mempersuasi suatu group untuk beraksi, itu adalah kekuatan dari visi. Visi bisa mempengaruhi organisasi hanya apabila para anggota menerima dan mau berkomitmen pada visi tersebut. Barulah visi itu menjadi sumber motivasi yang kuat dan menyatukan. Itu artinya bahwa visi harus juga dikomunikasikan dengan baik sehingga mampu menggugah dan memotivasi untuk dilakukannya tindakan nyata secara bersama-sama. Visi yang baik akan menggugah imajinasi orang. Hal itu sangat tergantung pada sejauh mana para pemimpin itu sendiri tergugah oleh sasaran itu. Jika imajinasi mereka tidak menyala-nyala, mereka tidak akan membakar imajinasi orang lain. Apa yang harus terjadi di masa yang akan datang, yang hanya dapat dilihat oleh para pemimpin, sekarang disampaikan di depan mata, sehingga orang lain dapat melihatnya dan termotivasi untuk ambil bagian dalam visi itu. Visi yang baik akan menantang orang untuk berpartisipasi, serta mereka secara pribadi tertantang untuk mewujudkan tujuan itu.
            Brian Tracy, mengatakan bahwa diantara 3.000-an penelitian yang pernah dia baca, ia menyimpulkan dengan menempatkan visi pada tempat teratas dari daftar kualitas kepemimpinan pada umumnya. Visi, menurut tracy, memunculkan harapan, dan harapan adalah motivator yang ampuh. Visi bisa mengubah pikiran dan hati seseorang apabila mereka menerima visi tersebut sebagai visi mereka sendiri. Visi yang mengubahkan adalah visi yang mengilhami pengikutnya yang mendorong mereka memberikan pengabdian dan bertindak. Visi yang memotivasi memungkinkan pengikut visi itu hidup seakan-akan hari ini adalah hari yang pertama dan yang terakhir dalam kehidupan kita. Bukan untuk menyetir kita melainkan untuk memberi kita tujuan. Visi memberikan kita suatu keyakinan, dan memberitahu apa yang harus kita lakukan. Visi memotivasi kita karena hal itu memusatkan perhatian kita pada masa depan dan mendorong kita untuk mengambil tindakan ke arah perwujudannya.
            Kemudian, sasaran-sasaran visi yang telah tercapai juga menolong orang-orang mencapai kepuasan karena mereka melihat adanya hasil. Hal tersebut memotivasi mereka untuk maju terus. Oleh karena itu visi yang jelas dapat dipandang sebagai titik-titik keberhasilan di sepanjang hidup seseorang. Membesarkan hati untuk melihat bahwa kita sudah mencapai satu sasaran lagi dan siap untuk mencapai sasaran selanjutnya. Dan seorang pemimpin visioner harus mampu memiliki visi sebagai kriteria terpenting dan harus memotivasi orang lain demi terwujudnya visi, sebab keberhasilan mencapai visi tertentu sangat menentukan tingkat motivasi dan pengharapan kelanjutan dari sebuah visi itu bagi organisasi.
           
Kesimpulan
            Visi adalah sesuatu yang penting untuk kelangsungan hidup suatu organisasi. Visi merupakan pemberian Allah dan lahir dari adanya iman, ditopang oleh pengharapan, diperarah oleh imajinasi dan diperkuat oleh semangat. Visi mencakup pandangan yang luas yang berada di luar batas-batas pemikiran, kepastian dan sangkaan. Visi itu mutlak penting. Itulah sebabnya Charlew Swindoll, mengatakan demikian, “tanpa visi, tidak mengherankan bila tamatlah riwayat kita!” seorang pemimpin harus memiliki visi sebagai salah-satu faktor penting yang menentukan kelayakkannya memimpin suatu organisasi. Visi itu penting karena dengan visi yang baik, akan menggerakkan suatu organisasi ke masa depan, menggerakkan dengan tujuan dan arah yang jelas, serta anggota organisasi termotivasi dan berpengharapan karena mereka memiliki tujuan yang baik ke depan yang ingin direalisasikan secara bersama-sama.
            Namun, hal yang perlu diperhatikan oleh seorang pemimpin visioner adalah visi itu janganlah hanya terbatas pada ide yang terkristal dan teraktualisasi dalam gagasan-gagasan yang indah, melainkan harus sampai pada tindakan melakukannya. Tom Marshall berpendapat demikian, “Adalah tidak memadai untuk sekedar memperoleh sebuah visi atau bahkan mengkonseptualisasikan visi itu pada sasaran yang digambarkan dengan baik dan jelas. Kalau anda tidak bisa mendapatkan orang yang mengikuti anda untuk mencapai visi itu, anda bukan pemimpin”. John C. Bowling menegaskan, “Agar bisa menjadi pemimpin yang efektif, Anda perlu visi. tetapi, anda perlu juga mengkomunikasikan visi itu kepada orang lain dengan langkah-langkah yang secara emosional dan mental membuat mereka dengan sukarela bersedia mewujudkan visi itu menjadi kenyataan. Visi tidak akan ada artinya, jika tidak diterjemahkan ke dalam tindakan”. Akhirnya, Heriyanto menyimpulkan demikian, “Kepemimpinan berjalan dengan efektif saat pemimpin mampu menemukan orang-orang yang mampu menerjemahkan visinya dan merekrut orang-orang yang berani tampil merintis visi menjadi tindakan”. Jadi, visi yang baik pasti memberi dampak besar bagi kepemimpinan, dan baru membuahkan hasil apabila mampu dimengerti dan mampu dilakukan atau diwujudnyatakan oleh anggota organisasi.

Kamis, 09 Desember 2010

Konsep Penyembahan Dalam Roh dan Kebenaran


I.                   Pendahuluan
Ibadah Kristiani tidaklah lepas dari suatu yang dinamakan penyembahan kepada Allah.  Bahkan setiap orang percaya seharusnya mempunyai gaya hidup sebagai “penyembah-penyembah” bagi Allah. Dan, karena penyembahan adalah gaya hidup orang percaya, maka memuliakan Allah pastilah menjadi tujuan penyembahan yang disadari, terus menerus, berarti, dan kekal. Dalam pelaksanaannya, penyembahan tidaklah dibatasi oleh masalah tempat, jenis, waktu atau hal apapun, sebab pada esensinya, Pribadi yang disembah adalah pribadi dalam Roh, yang tidak bisa batasi oleh apapun di luar diri-Nya. Kita bisa menyembah Allah dimanapun kita berada dan dalam segala aspek hidup dan pekerjaan kita sehari-hari. Oleh sebab itu, apapun yang kita lakukan mulai dengan kegiatan-kegiatan biasa seperti makan dan minum, haruslah dilakukan untuk kemuliaan Allah, itulah penyembahan sebagai gaya hidup. Kemudian dalam penyembahan itu sendiri, Kesadaran akan oknum yang disembah dalam ibadah adalah pribadi Allah yang kudus, mulia dan benar, maka, implikasinya lebih jauh adalah menuntut setiap orang yang datang menyembah haruslah menyembah Allah dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:24). Orang yang mau memuliakan Allah hanya bisa diperkenankan Allah, bila ia melakukannya dalam roh dan kebenaran. Apa maksud dan bagaimana menyembah Allah dalam roh dan kebenaran? 

II.                Worth-ship
Worship (Penyembahan) dalam bahasa Inggris berakar dari kata ‘worth-ship’, yang menyatakan nilai atau harga yang dikenakan pada seseorang atau sesuatu. Contemporary English-Indonesian Dictionary, mendefisikannya secara sederhana sebagai upacara keagamaan, ibadat, yang di dalamnya mengandung kekaguman yang besar terhadap suatu hal sehingga menimbulkan suatu perasaan memuja. Sikap worship ini biasanya ditujukan pada pejabat-pejabat tertentu  [terutama di Inggris] atau pahlawan-pahlawan yang dikagumi.  Namun, dalam konteks Alkitab, terdapat tujuh kata dalam bahasa Yunani yang diterjemahkan sebagai ‘penyembahan’ di Perjanjian Baru. Satu kata yang paling sering dipakai muncul tidak kurang dari lima puluh sembilan kali dalam PB adalah kata “proskyneo”. Kata ini lebih sering digunakan daripada kata yang lainnya yang menunjukkan betapa pentingnya kata ini. Arti dasar dari kata ini adalah “datang untuk mencium (tangan),” dan ini mengandung arti secara eksternal maupun internal. Secara eksternal berarti sikap sujud menyembah sampai ke tanah. Secara internal berarti sikap di dalam hati kita yang penuh dengan rasa hormat dan kerendahan hati. Ini memberikan gambaran yang indah bagi kita tentang penyembahan, yaitu ketika kita mendekati Tuhan segala tuhan, kita datang dengan muka terangkat, dengan hati yang penuh kasih dan ucapan syukur, dan tekat hati yang teguh untuk mentaati Dia. Graham Kendrick, mendefinisikannya demikian: “Pujian atau penyembahan adalah merupakan luapan dari kehidupan yang telah diisi oleh Allah.” Artinya bahwa ketika Allah dengan segala kemuliaan-Nya dinyatakan pada kita, maka, hal itu akan menggetarkan hati sanubari manusia yang terdalam untuk bereaksi yaitu menyembah Allah. Lebih jauh,William Temple mendefinisikan penyembahan sebagai berikut:
“Menyembah adalah menghidupkan hati nurani dengan kekudusan Allah, memberi makan pikiran dengan kebenaran Allah, menyucikan khayalan dengan keindahan Allah, membuka hati terhadap kasih Allah, dan mengabdikan kehendak kepada maksud Allah.”

Penyembahan  kristen adalah penyembahan yang mempunyai tujuan yang amat jelas, dan bukan sekedar membangkitkan emosi sesaat. Melainkan barawal dari  hati yang rindu dan dipuaskan Tuhan, sehingga menimbulkan reaksi menyembah Allah dari roh/ hati yang terdalam. Jadi, boleh dikatakan bahwa penyembahan dalam kekristenan adalah suatu yang sakral dan menyangkut relasi dengan Allah yang penuh dengan kemuliaan. Penyembahan hanya bisa muncul ketika hati kita sudah mengalami sentuhan langsung dari Tuhan Allah, sehingga mau tidak mau kita hanya datang dan menyembah dia dari hati yang terdalam. kegairahan hati dibangkitkan dan dilakukan sesuai dengan maksud Allah di dalamnya. Maka, penyembahan kristen bukanlah sebuah ritual belaka (formalitas) tetapi menyangkut sesuatu yang sangat bernilai oleh sebab itu harus dilakukan di dalam roh yang mengalami pembaharuan sesuai kebenaran Allah.

Dasar Penyembahan
Poin utama yang harus kita sadari bahwa memuliakan atau menyembah Allah, dimulai sejak kita mengalami keselamatan dan pembaharuan di dalam Kristus. Ketika kita berserah kepada Yesus sebagai Tuhan dan dengan demikian menjadi penyembah yang benar. Kalau kita tidak di dalam keselamatan yang Yesus kerjakan, maka sesungguhnya kita hanyalah penyembah-penyembah palsu yang membangkitkan emosi sesaat untuk mencapai suasana tertentu  yang membuat kita nyaman dan tentram sesaat, tetapi kita tidaklah disebut sebagai penyembah Allah, sebab Allah tidak mungkin berkenan mendengar penyembahan dari orang-orang yang tidak kudus, yang hatinya buta terhadap kebenaran Allah. Menyembah Allah terjadi oleh karena Ia yang menciptakan kita, berkenan atas hidup kita.
Kesadaran akan pribadi yang disembah adalah Allah sebagai pencipta dan penguasa atas segala sesuatu di dalam semesta ini, maka sudah seharusnya kemuliaan dikembalikan pada-Nya. Alkitab menyatakan, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia: bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Roma 11:36). Sebagai pencipta hanya Dia yang layak dipuji. Memuliakan Allah terjadi karena Allah menciptakan segala sesuatu untuk kemuliaan-Nya. Maksud seluruh penciptaan adalah untuk memuliakan Allah. Amsal 16:4 mengatakan, “TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing.” Segala sesuatu dalam penciptaan dirancang untuk memancarkan sifat-sifat-Nya, kasih-Nya, belaskasihan-Nya, hikmat-Nya dan anugrah-Nya. Itu bukan egoisme di pihak Allah. Ia layak kita puji. Sebagai Allah Ia mempunyai setiap hak untuk menuntut penyembahan dan pemujaan dari makhluk ciptaan-Nya. Dan kita harus melakukannya dengan penuh ketundukkan.
Akhirnya, persembahan apa yang dibawa dihadapan Tuhan dengan penuh ketundukkan? Roma 12:1, Rasul Paulus mengajarkan, “karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu itu adalah ibadahmu [penyembahanmu] yang sejati.” Penyembahan rohani ini bukanlah hal yang abstrak atau tidak masuk akal, karena penyembahan ini dimulai dari sesuatu yang nyata dan amat jelas, yaitu kepemilikan pribadi. Milik siapakah saya ini? Kepada siapakah saya mempersembahkan diri saya ini? Itu adalah esensi atau yang mendasari penyembahan yang benar dalam ibadah.

III.     Konsep Penyembahan dalam Roh dan Kebenaran
Menyembah dalam Roh
Apa maksudnya menyembah dalam roh? Kata roh dalam Yohanes 4: 24 memakai kata YunaniPneumati”, yang mengacu pada roh manusia, bagian dari pribadi manusia yang tertinggi, yang terdalam, dan merupakan ‘poin kontak’ diantara Allah dengan manusia. Ibadah yang murni ialah apabila roh, yaitu bagian yang kekal dan tak kelihatan dari manusia, berbicara serta bertemu dengan Allah, yang juga kekal dan tidak kelihatan. Penyembahan haruslah mengalir dari “dalam” ke “luar”. Penyembahan bukanlah masalah berada di tempat yang benar, pada waktu yang tepat, musik yang cocok, dan suasana hati yang tepat. Penyembahan bukanlah kegiatan lahiriah yang menuntut terciptanya suatu suasana tertentu. Penyembahan terjadi di dalam hati, dalam roh. Stephen Charnock dalam bukunya The Existence and Attributes of God menulis,
Tanpa hati (roh manusia), penyembahan bukanlah penyembahan; penyembahan tersebut adalah permainan sandiwara; sebuah peran yang dimainkan tanpa menjadi orang yang sesungguhnya kita mainkan: semua munafik, dalam arti kata itu, adalah seorang pemain sandiwara . . . Kita mungkin dikatakan sungguh-sungguh menyembah Allah walaupun kita tidak sempurna; tetapi kita tidak dapat dikatakan menyembah Dia, bila kita tidak tulus hati.

Penyembahan yang tanpa hati juga kita temukan dalam Alkitab, yaitu ketika Yesus berkata kepada orang-orang Farisi dan ahli taurat, “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: ‘Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripada-Ku” (Markus 7:6). Jadi, jelas sekarang bahwa ketika kita memuliakan Allah, yang harus diperhatikan adalah kita harus dengan ketulusan hati datang pada-Nya dan penyembahan kita haruslah dari dalam lubuk hati kita.
Bagaimana memiliki roh yang menyembah? Menyembah dalam roh di dalamnya ada pengertian yang melimpah tentang dekat dengan Allah. Yakobus 4:8 mengatakan, “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.” Kita dapat mempunyai hari yang melimpah, yang menyembah dalam roh. Caranya adalah mula-mula diri kita harus diserahkan pada Roh Kudus. Sebelum kita dapat menyembah Allah dalam roh, Roh Kudus harus ada untuk mengasilkan penyembahan yang benar. I Korintus 2:11 mengatakan, “demikian pulalah, tidak ada orang yang tahu, apa yang terjadi di dalam diri Allah selain Roh Allah.” Jelas tampak dalam Yohanes 4:4 bahwa penyembahan yang benar hanya bisa dipersembahkan ketika, oleh kuasa Roh Kudus, roh kita sendiri menyembah Dia. Alkitab mengatakan bahwa Allah itu Roh, dan kita harus dibawa dalam dimensi-Nya untuk menyembah Dia sebagaimana yang Dia minta. Jadi, bila kita tidak membiarkan Roh Allah mendorong kita hati kita, memotivasi, menyucikan hati kita, kita tidak dapat menyembah Allah secara benar karena kita tidak mengenal Dia, hanya Roh Allah saja yang bisa melakukannya. “Tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: ‘Yesus adalah Tuhan’, selain Roh Kudus.” Dengan kata lain, tanpa Roh Kudus, seseorang tidak dapat sungguh-sungguh mengakui ketuhanan Kristus. Untuk menyembah Kristus sebagai yang mahakuasa, mahakudus memerlukan dorongan Roh Kudus. Dan Roh Kudus berkarya hanya setelah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi kita masing-masing. Barangkali tepat kesimpulan yang diungkapkan oleh Graham Kendrick, yang berbunyi: “Menyembah ‘dalam roh’ berarti menggabungkan diri ke dalam sumber pujian itu sendiri, yang tidak pernah kering, Roh Allah yang terus menerus menaikkan pujian, dan mengijinkan kebebasan-Nya bergabung dengan roh kita sendiri melalui pikiran dan tubuh kita untuk menyatakan keagungan Juruslamat kita Yesus dan kasih Bapa sorgawi.”
Selanjutnya, jika kita ingin menyembah Allah dalam roh, pikiran kita harus dipusatkan kepada Allah. Penyembahan adalah luapan dari pikiran yang diperbaharui oleh kebenaran Allah. Jadi, untuk menyembah dalam roh, kita harus mempunyai hati yang tidak bercabang.  Tanpa hati yang bulat, penyembahan tidaklah mungkin terjadi. Penyembahan dalam roh harus datang dari hati yang siap, hati yang tegas, hati yang pasti, hati yang hanya berpusat pada Allah. Dalam Mazmur 108 kita menemukan gagasan yang sama, ayat 2 mengatakan, “Hatiku siap, ya Allah, aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku.” Penyembahan dalam roh mengimplikasikan akan kondisi hati/ roh kita yang tidak bercabang, melainkan terfokus untuk Tuhan semata.
            Akhirnya, penyembahan dalam roh menuntut  kita untuk menyelesaikan dosa di hadapan Allah. Benar! apa yang pernah diungkapkan John Arthur, JR. “Kita harus menyembah Allah dengan hati yang penuh penyesalan.” Kita harus hidup suci, bersih, murni. Karena orang yang dapat masuk dalam hadirat Allah adalah orang yang dosanya telah diselesaikan. Kita tidak bisa masuk dengan semaunya saja, dengan ketidakmurnian di hadirat Allah. Arthur lebih jauh mengatakan,
“Mungkin alasan mengapa kita menemui kesulitan untuk sungguh-sungguh menghambakan diri dalam penyembahan Allah, alasan mengapa kita tidak mengalami kehadiran Allah, adalah bahwa kita mempunyai bidang-bidang dalam hidup kita yang tidak murni pada pandangan Allah. kita semua memiliki titik gelap dan cacat yang hanya diketahui Allah.”

Mazmur 139:23-24, Daud menulis, “Selidiki aku ya Allah, dan “kenallah hatiku”, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” Itu adalah pengakuan bahwa bahkan Daud sendiri tidak dapat memahami hatinya sendiri dengan sepenuhnya. Sebab itu, dalam penyembahan, seharusnya kita harus lebih dahulu terbuka, mau meminta kepada Allah untuk menerangi apa yang ada dalam bayang-bayang di dalam kehidupan kita. Kita harus menyerahkan roh kita pada Roh Kudus yang memenuhi hati kita dengan kehadiran dan kuasa-Nya, maka barulah luapan penyembahan dapat terjadi.

Menyembah Dalam Kebenaran
Yesus berkata bahwa kita juga harus menyembah dalam kebenaran, dengan demikian Ia menghubungkan penyembahan dengan kebenaran tanpa dapat dipisahkan. Penyembahan bukanlah suatu pengalaman emosi dengan firman Allah yang menimbulkan perasaan-perasaan tertentu. Penyembahan adalah tanggapan yang dibangun atas kebenaran. Kebenaran berasal dari Allah sendiri; ini bagian yang hakiki dari kharakter-Nya, dan karena itu, semua perkataan dan perbuatan-Nya mengandung dan berdasarkan kebenaran Ilahi. Jika penyembahan kita adalah untuk membuat suatu hubungan yang sungguh-sungguh nyata dengan Allah sumber kebenaran ini, maka hidup kita, pola pikiran dan kepercayaan kita harus sesuai dengan kebenaran mengenai Dia.

Firman Tuhan adalah Kebenaran 
Pilatus mengajukan pertanyaan yang sangat penting, “Apakah kebenaran itu?” dan Yesus menjawab dalam Yohanes 17:17 ketika ia berkata, “Firman-Mu adalah kebenaran.” Bila kita ingin menyembah dalam kebenaran, dan firman Allah adalah kebenaran, maka kita harus menyembah dengan pengertian yang benar akan firman Allah. Allah telah menyatakan diri-Nya di dalam Alkitab yang berpuncak pada penyataan yang paling nyata dari segalanya, yaitu pribadi Yesus Kristus. Ketika firman tersebut menerangi hati dan pikiran kita dengan cahaya supranatural Roh Kudus, maka kita akan dituntun ke dalam penyembahan yang benar. Yesus sendiri pernah menjanjikan dalam Yohanes 16:13, “Roh Kebenaran, akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran.”
Penyembahan dan kebenaran sejati di dalam firman Allah, tidaklah bisa terpisahkan satu dengan yang lainnya. Kebenaran adalah inti dari setiap penyembahan yang dilakukan oleh umat Allah. John Stott dalam bukunya Between Two Worlds, mengungkapkan demikian:
“Firman dan penyembahan tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Semua penyembahan adalah tanggapan yang disertai akal budi dan kasih terhadap penyataan Allah karena penyembahan adalah pemujaan terhadap nama-Nya. Oleh karenanya, penyembahan yang dapat diterima tidak mungkin tidak memperkenalkan nama Tuhan [bisa lewat khotbah, puji-pujian]. . . ketika firman Allah diuraikan secara terinci dalam kepenuhannya, umat mulai melihat kemuliaan dari Allah yang hidup, mereka sujud dengan rasa khidmat dan kagum yang membawa sukacita di hadapan takhta-Nya. Suasana penyembahan seperti ini dihasilkan oleh pemberitaan firman Allah dalam kuasa Roh Allah.”

Sekarang terlihat dengan jelas bahwa Kebenaran merupakan inti penyembahan; dan kalau kegairahan dan emosi yang membuat orang mendapatkan perasaan aman tanpa dihubungkan dengan kebenaran, maka hal itu tidak ada artinya.
Nehemia 8 menunjukkan kuasa firman Allah untuk mendorong orang-orang yang hatinya terbuka. Setelah Nehemia dan bangsa Israel menyelesaikan pembangunan tembok Yerusalem, mereka meminta Ezra membaca gulungan yang berisi firman Allah. Ezra membuka gulungan itu di hadapan semua orang dan segera semua orang berdiri pada waktu pemberitaan firman Allah diberitakan. “Lalu Ezra memuji Tuhan, Allah yang mahabesar, dan semua orang menyambut dengan: Amin, amin! Sambil mengangkat tangan. Kemudian mereka berlutut dan sujud menyembah kepada Tuhan dengan muka sampai ke tanah.” Jadi, sesungguhnya kebenaran firman Suci membuat umat sujud menyembah. Dan hanya firman Allah saja yang mampu melakukan itu dalam diri setiap orang yang menyembah kepada Allah tentunya dengan dorongan dan penerangan Roh Kudus dalam setiap pribadi penyembah-penyembah Allah. Jadi, menyembah di dalam kebenaran berarti menyembah menurut pernyataan Allah akan diri-Nya sendiri dan akan rencana-Nya bagi umat-Nya. Kita harus menyembah menurut kebenaran tentang Yesus, bahwa Dia adalah Juruslamat kita, Nabi, Imam dan Raja. Kebenaran ini harus senantiasa diingat dan dibangkitkan ketika kita melakukan suatu penyembahan di hadapan Allah. tetapi, jika penyembahan yang tidak diterangi, disegarkan dan dihidupkan oleh kebenaran Yesus, dengan segera akan menjadi lesu, membosankan, atau menjadi tidak terarah dan tidak nyata.
           
Encounter with God in Spirit and in Truth
Arthur menyimpulkan pendapatnya dengan menyatakan bahwa, “Semua penyembahan murni sesungguhnya adalah tanggapan sepenuh hati terhadap kebenaran Allah dan firman-Nya. Kebenaran adalah unsur objektif dalam penyembahan dan roh adalah unsur subjektif. Keduanya harus ada bersama-sama.” Penyembahan adalah ekspresi pujian yang keluar dari hari (roh) yang dapat diterima Allah bila dinyatakan dengan benar. Jadi, sifat dasar penyembahan adalah memberikan persembahan kepada Allah dari bagian diri kita “yang paling dalam”, dalam pujian, doa, nyanyian, memberi bantuan, dan prinsipnya adalah selalu berdasarkan kebenaran-Nya yang dinyatakan.
            Bila firman Allah menguasai hidup kita, maka pujian yang dinaikkan dihadapan Tuhan akan diatur berdasarkan patokan ilahi. Penyembahan dalam roh dan kebenaran adalah gabungan yang sempurna: emosi yang diatur oleh pemahaman, gairah yang diatur oleh firman Allah. penyembahan bukanlah hanya sebuah pengalaman yang luar biasa, tanpa arti dan isi. Penyembahan bukanlah sebuah perasaan senang terpisah dari pemahaman kebenaran firman Allah. Penyembahan dalam roh dan kebenaran adalah ekspresi pujian  yang keluar dari hati yang dapat diterima Allah, bila dilakukan dengan benar. Oleh karena itu orang yang akan menyembah Allah harus ada penyerahan yang setia pada firman Tuhan. Penyembahan adalah luapan dari pemahaman kita akan Allah sebagaimana ia telah menyatakan diri-Nya dalam Kitab Suci. Itulah penyembahan dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:24).
Akhirnya, hendaklah kita aminkan perkataan Paulus kepada jemaat Kolose, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayannya di dalam kamu, … sambil menyanyikan Mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.” Dengan keyakinan ini, maka kita sudah melakukan suatu penyembahan yang berkenan dan membawa kemuliaan bagi nama Tuhan sebab kita melakukannya berdasarkan kehendak-Nya, yaitu hati yang tulus berdasarkan tuntunan firman Allah sendiri.

IV.             Kesimpulan
Penyembahan Kristiani adalah suatu hal yang amat sakral dan penting. Dimana penyembahan itu sendiri menyangkut relasi pribadi dengan Allah Pencipta, Pribadi Yang Mulia, layak dipuji, Maha Kudus, Pencipta dan dengan segala atribut-Nya yang lain. Oleh sebab itu, penyembahan haruslah dilakukan di dalam roh yaitu hati kita yang terdalam yang menjadi titik perjumpaan antara manusia dengan Allah yang tentunya telah lebih dulu diubahkan oleh Tuhan, disucikan oleh Roh Allah, sehingga melaluinya kita bisa mengalami perjumpaan yang benar dengan Tuhan. Penyembahan juga haruslah penyembahan yang benar artinya haruslah sesuai dengan pemahaman yang benar akan firman Allah yang adalah kebenaran itu sendiri. Kita harus menyembah menurut kebenaran tentang Yesus, bahwa Dia adalah Juruslamat kita, Nabi, Imam dan Raja. Pada akhirnya, kedua hal ini haruslah dilakukan dalam ikatan yang selaras. Penyembahan adalah ekspresi pujian yang keluar dari hari (roh) yang dapat diterima Allah bila dinyatakan dengan benar. Kebenaran adalah unsur objektif dalam penyembahan dan roh adalah unsur subjektif. Penyembahan haruslah menjadi luapan dari pemahaman kita akan Allah sebagaimana ia telah menyatakan diri-Nya dalam Kitab suci. Itulah penyembahan dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:24).

Rabu, 24 November 2010

Suatu Evaluasi Kritis Terhadap Pendekatan Inklusif Kristen Dalam Berteologi Religionum


Keberagamaan merupakan suatu keniscayaan dalam kehidupan manusia (semen religio) sebagai ciptaan Allah. Sebagai makhluk homo religio, setiap orang pasti memeluk agama-agama tertentu. Keberagaman keagamaan manusia tersebut pada dasarnya memiliki sifat fanatik di dalam dirinya sendiri yang dalam interaksinya dengan agama-agama lain berakibat timbulnya konflik dengan agama-agama yang lain yang sama memiliki kefanatikan di dalam ajaran dan praktek keagamaannya. Maka, dengan situasi masyarakat agama-agama yang homo homini lupus membuahkan kekerasan atas ‘nama agama’. Dalam hal ini, kekristenan tidak hidup dalam kesendirian melainkan selalu berinteraksi dengan agama-agama yang lain, yang jika tidak mempunyai sikap yang baik dan toleransi, tentunya konflik akan menjadi tantangan yang sangat serius. Oleh sebab itu, khususnya kekristenan perlu melakukan suatu pendekatan-pendekatan yang tepat, guna kepentingan keharmonisan dan sikap saling menghargai diantara agama-agama, sehingga bisa meminimalkan konflik antar agama. Dalam hal ini, kekristenan  telah berupaya melakukan pendekatan-pendekatan yang pada akhirnya jatuh di dalam sisi keektriman (pendekatan ekslusifisme) yang terlalu tertutup; juga pendekatanya lainnya yang terlalu terbuka yang meniadakan keunikan kekristenan sama sekali (pendekatan pluralisme). sebagai jalan keluar dari dua kutup ekstrim ini, maka muncullah pendekatan yang dikenal dengan istilah inklusifisme, yang dalam pendekatannya selalu berusaha mencari jalan tengah tetapi juga memiliki kejatuhannya sendiri yaitu dalam pendekatannya telah menggadaikan kristus”, demi keharmonisan. Tulisan singkat ini hanya fokus pada pengevaluasian secara kristis terhadap salah satu pendekatannya saja yaitu pendekatan inklusifisme yang terlalu terbuka dan bahkan menjadi sikritis di dalam pendekatannya.

KONTEKS KEPRIHATINAN DALAM BERTEOLOGI RELIGIONUM
Kemajemukkan Keagamaan Sebagai Fakta Sekaligus Krisis
Pluralistik dalam segala aspek kehidupan kemanusiaan merupakan suatu fakta kehidupan yang tidak dapat diingkari. Kemajemukan bukan hanya berbeda secara etnis, suku, budaya; tetapi tiap-tiap individu pada hakikatnya unik dan berbeda. Kemajemukkan tersebut telah menimbulkan problematika yang cukup kompleks, seperti munculnya konflik agama, pluralis agama dan sebagainya. Setidaknya bisa dipahami bahwa timbulnya konflik antar masyarakat beragama bisa disebabkan oleh sikap kefanatikan atas perbedaan doktrinal dan sikap keagamaan; dan masalah mayoritas dan minoritas golongan agama. Herlianto dalam analisanya mengenai pergumulan ini menegaskan bahwa, pluralistik agama bukannya memperingan masalah tetapi malah menambah masalah, soalnya umumnya agama-agama itu mempunyai tekat misioner yang kuat, serta praktek keagamaan yang bersifat fundamentalis. Setiap orang yang menganut agama tertentu memiliki perspektif tertentu, yang harus dipertahankan posisinya, dan juga adanya kerinduan di dalam hati mereka untuk mengembangkan ajaran dan pengaruh agamanya masing-masing kepada setiap lapisan masyarakat dengan tujuan untuk lebih berkembang. Sehingga, ketika setiap individu tersebut melakukan “misinya” masing-masing, saling memperebutkan pengaruh, dan ingin supaya ajarannya yang diterima, maka sesuatu yang tidak bisa ditolak ialah konflik.
Maka, jika tidak ada suatu solusi yang bisa menyatukan atau suatu titik toleransi diantara agama-agama, maka fanatisme keagamaan akan membawa dampak pada konflik di tingkat kepercayaan yang berimbas pada seluruh aspek kehidupan kemanusiaan lainnya. Oleh sebab itu dalam hal ini, setidaknya ada tiga usaha agama-agama dalam mengingkapi kemajemukan tersebut. Pendekatan-pendekatan tersebut dapat dibagi demikian: eksklusivisme, inklusivisme dan pluralisme. Dalam hal ini, pendekatan inkluvisme muncul sebagai penengah atau alternatif dalam usaha rekonsiliasi ketegangan pandangan dalam iman Kristen yaitu antara eksklusivisme dengan pluralisme. Karl Rahner merupakan tokoh paling berpengaruh dalam pendekatan ini, yang berusaha mencari jalan keluar terhadap masalah polarisasi tersebut, melalui pendekatan yang sifatnya inklusifisme.

Pendekatan Inklusifisme Dalam Berteologi Religionum
            Dalam hal meminimalisasi konflik diantara agama-agama, pendekatan inklusifisme menjadi suatu solusi yang dianggap cukup baik dan efisien bagi tercapainya keharmonisan diantara agama-agama. Pendekatan ini umumnya lebih diterima ketimbang pendekatan eksklusivisme maupun pluralisme, karena posisi inklusivis merupakan suatu posisi keterbukaan terhadap sesuatu dari luar atau yang berlainan dan mempersilahkan yang berlawanan mendapat bagian di dalam dirinya. Wikipedia Free Encyclopedia, menjelaskannya pendekatan inklusif, demikian: “Traditional inclusivism, which asserts that the believer’s own views are absolutely true, and believers or other religions are correct insofar as they agree with that believer.” Sikap inklusif ini akan pada saat menghadapi kontradiksi yang nyata, misalnya suatu pembedaan yang perlu pun dapat dibuat antara tataran-tataran berbeda sehingga dimungkinkan untuk mengatasi kontradiksi tersebut. Sikap penerimaan yang toleran akan adanya tataran-tataran yang berbeda, akan lebih mudah tercapai. Sikap ini menerima ekspresi ‘kebenaran’ yang beraneka ragam sehingga dapat merengguh sistem-sistem pemikiran yang paling berlainan sekalipun, ia terpaksa membuat kebenaran bersifat relatif murni. Dalam hal ini kebenaran doktrinal hampir tidak bisa diterima sebagai yang universal.
Dalam hal ini, inklusifisme berarti semua agama lain memiliki otentisitas masing-masing, tetapi hanya jika mereka masuk (to be included/inclusive) ke dalam bingkai kekristenan—yakni jika agama-agama itu masuk untuk berjumpa Yesus Kristus di dalam kekristenan---maka serentak dengan itu, mereka mendapat kepenuhan/kegenapan kesempurnaannya. Hanya dengan gerak sentripetal (masuk ke pusat, yakni Yesus Kristus), maka agama-agama lain itu tiba pada, atau ditransformasi pada kesempurnaan. Hanya dengan bertemu Yesus, agama-agama lain berubah dari bulan sabit menjadi bulan purnama, dari samar-samar menjadi terang benderang. Walaupun terbuka, inklusivisme masih berdiri atas presaposisi keutamaan/ supremasi/ keunggulan Yesus Kristus dibandingkan para tokoh-tokoh suci pendiri agama lainnya.

Filosofi: The Wideness of God
Dalam pendekatan inklusivisme, salah-satu titik acuan penerimaan secara toleransi kepada agama-agama lain adalah pemahaman mereka akan kasih Allah yang sifatnya universal, dimana penekanan kaum inklusif terletak pada kehendak Allah yang universal yang menginginkan semua manusia diselamatkan. Bagi Pinnock, seorang yang berpandangan inklusivisme secara eksplisit dan komprehensif mempertahankan pandangan bahwa pada akhirnya sebagian benar manusia akan diselamatkan karena universalitas kasih-Nya. Hal ini tidak berarti Pinnock menyetujui universalisme atau pandangan liberal-pluralistik yang menolak keontetikan, keunikan, finalitas inkarnasi Kristus.
            Konsep The Wideness of God berusaha memahami universalitas Allah dari sisi sifat jangkauan anugrah-Nya yang luas. Ini berarti Allah memperhatikan, membuka diri-Nya, dan berusaha menetapkan jangkauan keselamatan secara luas kepada semua orang dalam segala bangsa, termasuk kepada mereka yang berada dalam agama-agama lain. Aspek keterbukaan Allah ini didasarkan oleh Pinnock pada sifat dasar “Allah yang adalah kasih”, yang mengkomunikasikan diri-Nya secara universal kepada semua manusia lewat aksi dan reaksinya di hadapan mereka. Kasih Allah yang universal inilah merupakan komitmen Allah untuk menyelamatkan semua manusia. Dalam hal ini, Rahner dalam pendekatannya menekankan ajaran yang sama bahwa Tuhan itu kasih adanya. Dengan membentangkan lebih jauh akan makna dari Tuhan yang kasih itu, ia menjelaskan demikian, kalau Tuhan itu kasih di dalam 1 Yohanes 3:8, maka artinya bahwa Tuhan itu mau menjangkau dan merangkul semua orang dan makhluk hidup. Baginya, Allah itu mengaruniakan rahmat keselamatan kepada tiap-tiap orang. Sebab kalau tidak, berarti Tuhan itu tidak mengasihi tiap-tiap orang.
            Intinya, karya keselamatan atau penebusan dilakukan dengan dua saluran anugrah: pertama: anugrah yang menyelamatkan (saving grace), yaitu melalui universalitas penebusan Kristus yang ditawarkan dengan luasnya kepada semua orang (Yoh 3:16); kedua, penebusan kosmis aktifitas Roh Kudus dapat menolong kita untuk mengkonseptualisasi dan mengimplementasi anugrah (kasih) Allah. Karena anugrah Allah bekerja secara tidak terbatas dan secara berganda, maka ada harapan yang besar bahwa semua manusia dapat diselamatkan. Implikasi dari universlitas atau pelebaran Kasih Allah ini menegasakan bahwa Allah berkeinginan menyelamatkan semua orang dalam anugrahnya, dan Allah Anak membuat keselamatan ini menjadi mungkin melalui pekerjaan penebusan-Nya, dan Allah Roh Kudus menjangkau secara universal orang-orang yang terhilang dan berdosa; kemudian, karya keselamatan universal beroperasi secara tidak terbatas. Artinya anugrah keselamatan juga dinyatakan di luar konteks gereja, sebab Allah melalui karya Roh Kudus bekerja.

Kristologi Kosmik Sebagai Dasar Pendekatan
Kasih Allah itu universal, diberikan kepada semua bangsa, bahkan pada agama apapun itu, namun kasih itu juga partikular, diberikan secara nyata di dalam Kristus Yesus. Dalam hal ini, konsekuensi lebih lanjut akan pandangan the wideness of God dalam pendekatan inklusivisme adalah tercetusnya konsepKristologi Kosmik” yang memahami sosok Kristus Kosmik yang bertindak sebagai figur juruslamat yang universal sekaligus inklusif. Sikap inklusif menegaskan bahwa, Kristus hadir serta bekerja juga di kalangan mereka yang mungkin tidak mengenal Kristus itu secara pribadi. Karl Rahner sebagai tokoh penting dalam pendekatan ini, mengatakan bahwa, karya Kristus juga berlangsung di dalam agama-agama lain, sekalipun tidak disadari oleh penganut agama-agama tersebut, namun Karl Rahner juga tetap menegaskan pendapatnya bahwa, Kristus tetaplah yang paling final dan difinitif, satu-satunya jalan keselamatan. Posisi ini sering dikalimatkan dengan proposisi “semua agama ada dibawah pengaruh penebusan Kristus”, atau “hanya ada satu agama yang benar semua agama mendapat bagian kebenaran dari agama yang satu tersebut.” Posisi inklusivisme ektrim demikian selalu membuahkan yang namanya sinkritisme agama-agama. Posisi inklusif ini terkenal dengan istilah “Christianity and Non Christian Religions”. Di dalam pandangan ini, orang-orang dari kepercayaan lain, melalui anugrah Kristus, diikutsertakan dalam rencana keselamatan Allah. Robbyanto, menjelaskannya dengan mengutip pemikiran dari Sunand Sumitha, seorang teolog, sekaligus misiolog injili yang berfaham inklusivisme dari India, yang berkometar demikian: “Taking Col. 1:15-20 as his basis, where the word ‘all’ is repeated at least six times, Sittler concludes that God’s redemption is not smaller than the repeated ‘all’ it is ‘cosmic in scope’”. Interpretasi ini kemudian dijadikan oleh Sumitha sebagai dasar tugas misi penginjilannya yang terbuka bagi agama-agama lain, yang akihrnya berbuahkan sinkritisme dengan cara mereduksi kebaikan dari ajaran agama-agama lain sebagai tambahan berita Injil yang diberikatannya.
Pada umumnya ajaran tentang Kristus Kosmik ini dibangun pada prasuposisi bahwa sebelum inkarnasi, oknum kedua Trinitas [Kristus] telah bekerja secara aktif dalam penciptaan dan pemeliharaan alam semesta. Ia juga telah menjangkau berbagai tempat dan konteks dalam sejarah umat manusia. Dari sini dapat ditarik implikasi bahwa karya Kristus sebelum berinkarnasi adalah sebagai Kristus kosmik dan ini meliputi umat manusia di berbagai tempat dan waktu. Aktivitas tersebut tetap berlangsung bahkan setelah peristiwa kebangkitannya. Jadi, dasar pendekatan inklusivisme dalam hal ini adalah penafsiran mereka terhadap PL akan pekerjaan Kristus yang sifatnya universal. Selanjutnya, Joseph Sittler, mendasari konsep Kristus Kosmiknya dasar pemikiran yang sama dengan Samartha yaitu di dalam Kolose 1:15-20, dengan eksigesis yang dilakukan pada kata segala ‘all’ yang muncul berulangkali pada bagian tersebut, kemudian, Sittler menyimpulkan bahwa tindakan penyelamatan Allah di dalam Yesus Kristus memiliki dampak kosmik (cosmic effects).
            Landasan ini kemudian dipakai sebagai basis untuk mendukung posisi inklusivisme dengan menegaskan bahwa pre-eksis (pre-exixting Christ) telah hadir dan aktif berkarya di dalam agama-agama lain. Dengan demikian, dapat ditarik inferensi sebagaimana Karl Rahner lakukan dengan konsep anonymous christian-nya, atau Stanley Samartha dengan konsep unbound Christ-nya, atau M.M. Thomas dengan konsep Christ centered syncretism-nya. Paul Knitter berdasarkan Roma 8:19, menunjukkan bahwa keselamatan yang diperoleh melalui Kristus bekerja bukan hanya bagi kepentingan orang-orang Kristen, the son of God, tetapi melalui mereka karya keselamatan itu menjangkau seluruh ciptaan.

Agama-Agama Merupakan “Jalan Keselamatan”
            Rahner menegaskan pandangan yang mengejutkan dengan pengatakan bahwa: rahmat Allah bekerja di dalam agama-agama. Allah menawarkan pengorbanan diri-Nya di dalam dan melalui kepercayaan, perbuatan, dan ritual agama-agama lain. Tuhan menghimpun semua orang bagi dirinya di dalam dan melalui kepercayaan dan perbuatan agama-agama Hindu, Budha, Islam dan agama-agama pribumi. Jadi, agama-agama non-Kristiani bisa menjadi “jalan positif untuk menemukan hubungan yang benar dengan Tuhan dan karena itu memperoleh keselamatan, suatu jalan yang secara positif masuk dalam rencana keselamatan Tuhan”, yang “secara positif” dikehendaki Tuhan. Teologi Rahner ini berusaha membangun suatu kemungkinan kehadiran ilahi di dalam agama-agama lain. Jadi, Pendekatan inklusiv hampir sama dengan pluralisme yang menjadikan memungkinkan keselamatan bisa terjadi di dalam agama-agama lain. Namun, penekanan pada kasih Allah melalui penebusan Kristus menjadi bagian dalam agama-agama lainnya karena penebusan Kristus menjadi pemenuhan final bagi agama-agama lain, atau Kristus menjadi norma di atas segala norma yang ada dalam agama-agama lain, juga mencirikan akan keeksklusivan di dalam pandangan Kritologinya. Sehingga agama-agama lain dipandang sebagai sarana-sarana untuk menolong manusia mengenal Kristus secara anonim, yang membawa mereka pada keselamatan.
.
Kristen Anonim
            Rahner menambahkan satu keyakinan kristianinya yang esensial ke teologi agama-agama, yang menyatakan “semua rahmat adalah anugrah Kristus”. Rahner menegaskan akan kebutuhan akan Kristus dalam keselamatan hanya sebagai ke butuhan “final” bukan dalam pengertian “efesiensi”. Baginya, Yesus bukan alasan efisien bagi keselamatan , tetapi alasan yang final. Artinya kita bisa komit secara penuh untuk menjalani satu kehidupan penuh kasih dan keadilan seperti Tuhan, kita perlu tahu, jelas dan yakin bahwa Tuhan telah memberikan diri-Nya kepada kita, keyakinan ini disediakan Tuhan di dalam Yesus. Inilah apa yang diartikan sebagai “sebab final dan “juruslamat absolut”.
Bagi Rahner, kebutuhan itu merupakan sebab final dalam artian bahwa mereka yang tidak mengenal Yesus masih bisa merasakan kasih Allah yang menyelamatkan, namun mereka belum mampu melihat secara jelas kemana arahnya, apa tujuannya benar dan apa kemungkinan-kemungkinannya. Jadi setiap pemeluk agama Budha, Hindu, Islam yang mengalami rahmat kasih Allah di dalam agama mereka masing-masing sudah terhubung dengan dan terorientasi ke gereka Kristiani. Mereka bisa dikatakan sudah menjadi Kristiani tanpa nama Kristiani, atau Kristiani anonim.

SUATU EVALUASI KRITIS TERHADAP PENDEKATAN INKLUSIFISME
Kristus Yang “Tergadaikan”
Kristus adalah untuk semua agama, dan melingkupi semua agama apapun! Faham universalitas tersebut menekankan kepercayaan bahwa anugrah Allah di dalam Kristus bersifat universal. Pemahaman ini jelas mengaburkan muatan iman Kristen yang bertumpu pada kebenaran fundamental yang normatif menjadi relatif dan cenderung disamakan dengan apa yang ada di dalam agama lain. Model “pemenuhan” menurut konsep Rahner telah merendahkan sisi eksklusivitas kekristenan dalam hal “finalitas Kristus” yang sejati, berubah menjadi sesuatu yang relatif bagi kepercayaan-kepercayaan yang lain. Kemutlakkan finalitas Kristus ‘diperlunak’ hingga hanya menjadi sebagai “penyempurna” atau “pemenuhan” bagi agama-agama lain. Sebenarnya walaupun mereka mengakui akan finalitas Kristus dalam hal keselamatan, namun sebenarnya keunikan Kristus itu hampir pudar dan tidak ada signifikannya bagi keselamatan.
Keunikan Kristus “digadaikan”, dalam hal ini maksudnya adalah “keunikan” digantikan dengan “superioritas Kristus” terhadap agama-agama lain. Superioritas ini terlihat di dalam pemikiran Harvey Conn yang meletakkan Kristus di atas agama, dalam pengertian bahwa semua agama dapat menyelamatkan (di dalam Kristus); juga konsep Ken Gnanakan, yang menegaskan bahwa semua agama berada di bawah pengaruh Kristus. Dalam pendekatan ini, memaksakan Kekristenan untuk membagikan Kristus pada agama-agama tanpa perlu menjadi Kristen, berkonsekuensi akan adanya yang dinamakan dengan orang-orang Kristen Anomim, yaitu Kristen yang bukan Kristen (masih memeluk agama lain, tatapi percaya Yesus).
Dengan demikian, ada banyak kegagalan-kegagalan dalam pendekatan ini, pertama-tama, finalitas Kristus dalam keselamatan, diperlunak hingga sekedar pengaruh saja. Kedua, konsep keselamatan universal, meletakkan kekristenan sebagai sesuatu yang setara di dalam keselamatan yang menuju pada satu kesatuan di dalam Kristus. Ketiga, konsep Kristen anonim menyiratkan bahwa pendekatan ini lebih condong menegaskan gagasan kaum pluralisme, sekaligus dibumbui dengan konsep “Kristus” yang sudah tidak alkitabiah lagi.

Soteriologis: Sinkritisme Keselamatan
Sinkritisme merupakan suatu tindakan pemaksaan mencampurkan suatu hal atau kepercayaan tertentu yang sebenarnya merupakan hal yang tidak bisa dicampurkan. Pendekatan inklusifisme telah jatuh pada hal yang seperti ini. Konsep Kekristenan adalah penggenapan Agama-agama lain atau jalan keselamatan dari agama-agama, menegaskan akan sikap sinkritisme kaum inklusif di dalam mencapai suatu keharmonisan dengan ajaran-ajaran agama lain.  Hingga pada akhirnya memunculkan sikap “merelatifkan keunikan jalan keselamatan” di dalam ajaran Kekristenan, dalam hal ini kaum inklusif memandang bahwa apapun kebaikan dan kebenaran yang terdapat diantara agama-agama harus dianggap oleh gereja sebagai persiapan untuk menerima Injil, agama-agama hanya bisa mencapai pemenuhannya di dalam Kristus.
Sinkritisme ajaran keselamatan itu, lebih jauh bisa teramati melalui usaha dialog yang tulus yang mendasarinya dengan keterbukaan keselamatan bagi agama-agama diluar kekristenan, bahkan ada kemungkinan bagi orang Kristen untuk belajar atau diisi oleh ajaran kebaikan atau kebenaran-kebenaran dari ajaran agama-agama lainya. Kemudian, ada suatu kecenderungan lain yang timbul yaitu merendahkan otoritas Alkitab, yaitu dengan mendorong umat Tuhan belajar mengenai kebaikan di dalam agama lain sebagai “penyempurna” bagi pemahaman Kristiani akan makna kebaikan, kebenaran secara lebih mendalam. Hal ini terlihat di dalam praktek dialog yang dilakukan yang memahami ajaran agama lain sebagai “harta yang melimpah bagi Injil”. Keunikan keselamatan di dalam agama wahyu [Kristen] diturunkan pada tataran kebaikan dan kebenaran ajaran agama-agama lain. Sehingga ukuran seseorang selamat atau tidaknya ditenntukan oleh kebaikan dan kebenaran ajarannya agamanya diperhitungkan benar karena memiliki kesamaan dengan ajaran kekristenan artinya, di dalam ajaran agama lain juga, pengaruh kebenaran Kristus secara implisit tersalurkan, sehingga walaupun orang yang belum menjadi Kristen, ada kemungkinan untuk diselamatkan.
Motivasi kristenisasi juga menjadi sautu kecenderungan yang mungkin timbul, dengan memahami konsep keselamatan Allah itu hanya di tataran imanensi Allah, sehingga Allah dianggap bisa saja berubah pikiran sewaktu-waktu, jika pemeluk agama lain bertobat dari agamanya semula dan mau memeluk agama Kristen. Dalam hal ini, Lesslei Newbigin, setuju pemikiran Rahner yang menekankan bahwa adalah tugas teolog-teolog Kristen untuk mengatakan kepada penganut yang setia dari agama bukan Kristen bahwa ia dapat diselamatkan tetapi ia akan mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk diselamatkan itu bila menjadi seorang Kristen dan tidak ada kesempatan sama sekali bila ia menolak undangan ini. Jadi, keselamatan itu dipahami sebagai usaha manusia mendapatkannya dengan cara mengubah agamanya kenjadi Kristen, maka ada kemungkinan Ia diterima kembali oleh Tuhan sebagai umat-Nya.
Sebenarnya Konsep Karl Rahner mengenai Kristen-Kristen anonim, merupakan cita-cita yang mulia yang ia lakukan dengan tujuan mencoba menampilkan kekristenan yang simpatik kepada agama-agama lain. Tetapi masalah dari pendekatan ini adalah pendekatan ini telah mereduksi, bersifat kompromistik, dan membuka peluang sinkretisme. Sehingga walaupun baik, namun tetap tidak benar menurut sistem kepercayaan Kristen.

KESIMPULAN
            Pendekatan inklusivisme, merupakan suatu pendekatan yang bertujuan mulia, yaitu demi mencapai keharmonisan diantara agama-agama, dalam hal ini berusaha meminimalisasi kemungkinan timbulnya konflik yang lebih parah akibat kefanatikan dari tiap agama-agama. Pendekatan ini memang ada baiknya dikerjakan ketika berhadapan dengan kemajemukan di dalam hal keberagamaan. Kaum inklusiv mempunyai keyakinan dasar dalam pendekatannya yaitu pada kasih Allah yang universal yang mau menjangkau semua orang, yang berarti Allah inngin kmenyelamatkan semua manusia. Penekanan akan peranan Kristus dalam hal keselamatan hanya dipahami sebagai sesuatu yang final diperlukan, namun itu juga bisa didapatkan di dalam agama-agama lain. Sehingga memunculkan konsep, “agama-agama dibawah pengaruh Kristus”.
            Pendekatan ini jelas merupakan pendekatan yang terlaku kompromistik di dalam ajaran dan praktek dialog yang sering dilakukan oleh kaum inklusif. Finalitas Kristus “digadaikan” dan bahkan keunikannya “diperlunak” dengan cara ditafsirkan ulang sebagai keunikan bagi keselamatan universal. Kristus tidak lagi menjadi satu-satunya jalan keselamatan, melainkan agama-agama lain mampu menyelamatkan juga ketika pengaruh penyelamatan Kristus berlangsung bagi mereka melalaui pekerjaan Kristus Kosmik. Jadi, masalah utama dari pendekatan ini adalah Kristologi yang direlatifkan dan mengakibatkan terjadinya sinkritisme jalan bagi keselamatan.