Kamis, 09 Desember 2010

Konsep Penyembahan Dalam Roh dan Kebenaran


I.                   Pendahuluan
Ibadah Kristiani tidaklah lepas dari suatu yang dinamakan penyembahan kepada Allah.  Bahkan setiap orang percaya seharusnya mempunyai gaya hidup sebagai “penyembah-penyembah” bagi Allah. Dan, karena penyembahan adalah gaya hidup orang percaya, maka memuliakan Allah pastilah menjadi tujuan penyembahan yang disadari, terus menerus, berarti, dan kekal. Dalam pelaksanaannya, penyembahan tidaklah dibatasi oleh masalah tempat, jenis, waktu atau hal apapun, sebab pada esensinya, Pribadi yang disembah adalah pribadi dalam Roh, yang tidak bisa batasi oleh apapun di luar diri-Nya. Kita bisa menyembah Allah dimanapun kita berada dan dalam segala aspek hidup dan pekerjaan kita sehari-hari. Oleh sebab itu, apapun yang kita lakukan mulai dengan kegiatan-kegiatan biasa seperti makan dan minum, haruslah dilakukan untuk kemuliaan Allah, itulah penyembahan sebagai gaya hidup. Kemudian dalam penyembahan itu sendiri, Kesadaran akan oknum yang disembah dalam ibadah adalah pribadi Allah yang kudus, mulia dan benar, maka, implikasinya lebih jauh adalah menuntut setiap orang yang datang menyembah haruslah menyembah Allah dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:24). Orang yang mau memuliakan Allah hanya bisa diperkenankan Allah, bila ia melakukannya dalam roh dan kebenaran. Apa maksud dan bagaimana menyembah Allah dalam roh dan kebenaran? 

II.                Worth-ship
Worship (Penyembahan) dalam bahasa Inggris berakar dari kata ‘worth-ship’, yang menyatakan nilai atau harga yang dikenakan pada seseorang atau sesuatu. Contemporary English-Indonesian Dictionary, mendefisikannya secara sederhana sebagai upacara keagamaan, ibadat, yang di dalamnya mengandung kekaguman yang besar terhadap suatu hal sehingga menimbulkan suatu perasaan memuja. Sikap worship ini biasanya ditujukan pada pejabat-pejabat tertentu  [terutama di Inggris] atau pahlawan-pahlawan yang dikagumi.  Namun, dalam konteks Alkitab, terdapat tujuh kata dalam bahasa Yunani yang diterjemahkan sebagai ‘penyembahan’ di Perjanjian Baru. Satu kata yang paling sering dipakai muncul tidak kurang dari lima puluh sembilan kali dalam PB adalah kata “proskyneo”. Kata ini lebih sering digunakan daripada kata yang lainnya yang menunjukkan betapa pentingnya kata ini. Arti dasar dari kata ini adalah “datang untuk mencium (tangan),” dan ini mengandung arti secara eksternal maupun internal. Secara eksternal berarti sikap sujud menyembah sampai ke tanah. Secara internal berarti sikap di dalam hati kita yang penuh dengan rasa hormat dan kerendahan hati. Ini memberikan gambaran yang indah bagi kita tentang penyembahan, yaitu ketika kita mendekati Tuhan segala tuhan, kita datang dengan muka terangkat, dengan hati yang penuh kasih dan ucapan syukur, dan tekat hati yang teguh untuk mentaati Dia. Graham Kendrick, mendefinisikannya demikian: “Pujian atau penyembahan adalah merupakan luapan dari kehidupan yang telah diisi oleh Allah.” Artinya bahwa ketika Allah dengan segala kemuliaan-Nya dinyatakan pada kita, maka, hal itu akan menggetarkan hati sanubari manusia yang terdalam untuk bereaksi yaitu menyembah Allah. Lebih jauh,William Temple mendefinisikan penyembahan sebagai berikut:
“Menyembah adalah menghidupkan hati nurani dengan kekudusan Allah, memberi makan pikiran dengan kebenaran Allah, menyucikan khayalan dengan keindahan Allah, membuka hati terhadap kasih Allah, dan mengabdikan kehendak kepada maksud Allah.”

Penyembahan  kristen adalah penyembahan yang mempunyai tujuan yang amat jelas, dan bukan sekedar membangkitkan emosi sesaat. Melainkan barawal dari  hati yang rindu dan dipuaskan Tuhan, sehingga menimbulkan reaksi menyembah Allah dari roh/ hati yang terdalam. Jadi, boleh dikatakan bahwa penyembahan dalam kekristenan adalah suatu yang sakral dan menyangkut relasi dengan Allah yang penuh dengan kemuliaan. Penyembahan hanya bisa muncul ketika hati kita sudah mengalami sentuhan langsung dari Tuhan Allah, sehingga mau tidak mau kita hanya datang dan menyembah dia dari hati yang terdalam. kegairahan hati dibangkitkan dan dilakukan sesuai dengan maksud Allah di dalamnya. Maka, penyembahan kristen bukanlah sebuah ritual belaka (formalitas) tetapi menyangkut sesuatu yang sangat bernilai oleh sebab itu harus dilakukan di dalam roh yang mengalami pembaharuan sesuai kebenaran Allah.

Dasar Penyembahan
Poin utama yang harus kita sadari bahwa memuliakan atau menyembah Allah, dimulai sejak kita mengalami keselamatan dan pembaharuan di dalam Kristus. Ketika kita berserah kepada Yesus sebagai Tuhan dan dengan demikian menjadi penyembah yang benar. Kalau kita tidak di dalam keselamatan yang Yesus kerjakan, maka sesungguhnya kita hanyalah penyembah-penyembah palsu yang membangkitkan emosi sesaat untuk mencapai suasana tertentu  yang membuat kita nyaman dan tentram sesaat, tetapi kita tidaklah disebut sebagai penyembah Allah, sebab Allah tidak mungkin berkenan mendengar penyembahan dari orang-orang yang tidak kudus, yang hatinya buta terhadap kebenaran Allah. Menyembah Allah terjadi oleh karena Ia yang menciptakan kita, berkenan atas hidup kita.
Kesadaran akan pribadi yang disembah adalah Allah sebagai pencipta dan penguasa atas segala sesuatu di dalam semesta ini, maka sudah seharusnya kemuliaan dikembalikan pada-Nya. Alkitab menyatakan, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia: bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Roma 11:36). Sebagai pencipta hanya Dia yang layak dipuji. Memuliakan Allah terjadi karena Allah menciptakan segala sesuatu untuk kemuliaan-Nya. Maksud seluruh penciptaan adalah untuk memuliakan Allah. Amsal 16:4 mengatakan, “TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing.” Segala sesuatu dalam penciptaan dirancang untuk memancarkan sifat-sifat-Nya, kasih-Nya, belaskasihan-Nya, hikmat-Nya dan anugrah-Nya. Itu bukan egoisme di pihak Allah. Ia layak kita puji. Sebagai Allah Ia mempunyai setiap hak untuk menuntut penyembahan dan pemujaan dari makhluk ciptaan-Nya. Dan kita harus melakukannya dengan penuh ketundukkan.
Akhirnya, persembahan apa yang dibawa dihadapan Tuhan dengan penuh ketundukkan? Roma 12:1, Rasul Paulus mengajarkan, “karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu itu adalah ibadahmu [penyembahanmu] yang sejati.” Penyembahan rohani ini bukanlah hal yang abstrak atau tidak masuk akal, karena penyembahan ini dimulai dari sesuatu yang nyata dan amat jelas, yaitu kepemilikan pribadi. Milik siapakah saya ini? Kepada siapakah saya mempersembahkan diri saya ini? Itu adalah esensi atau yang mendasari penyembahan yang benar dalam ibadah.

III.     Konsep Penyembahan dalam Roh dan Kebenaran
Menyembah dalam Roh
Apa maksudnya menyembah dalam roh? Kata roh dalam Yohanes 4: 24 memakai kata YunaniPneumati”, yang mengacu pada roh manusia, bagian dari pribadi manusia yang tertinggi, yang terdalam, dan merupakan ‘poin kontak’ diantara Allah dengan manusia. Ibadah yang murni ialah apabila roh, yaitu bagian yang kekal dan tak kelihatan dari manusia, berbicara serta bertemu dengan Allah, yang juga kekal dan tidak kelihatan. Penyembahan haruslah mengalir dari “dalam” ke “luar”. Penyembahan bukanlah masalah berada di tempat yang benar, pada waktu yang tepat, musik yang cocok, dan suasana hati yang tepat. Penyembahan bukanlah kegiatan lahiriah yang menuntut terciptanya suatu suasana tertentu. Penyembahan terjadi di dalam hati, dalam roh. Stephen Charnock dalam bukunya The Existence and Attributes of God menulis,
Tanpa hati (roh manusia), penyembahan bukanlah penyembahan; penyembahan tersebut adalah permainan sandiwara; sebuah peran yang dimainkan tanpa menjadi orang yang sesungguhnya kita mainkan: semua munafik, dalam arti kata itu, adalah seorang pemain sandiwara . . . Kita mungkin dikatakan sungguh-sungguh menyembah Allah walaupun kita tidak sempurna; tetapi kita tidak dapat dikatakan menyembah Dia, bila kita tidak tulus hati.

Penyembahan yang tanpa hati juga kita temukan dalam Alkitab, yaitu ketika Yesus berkata kepada orang-orang Farisi dan ahli taurat, “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: ‘Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripada-Ku” (Markus 7:6). Jadi, jelas sekarang bahwa ketika kita memuliakan Allah, yang harus diperhatikan adalah kita harus dengan ketulusan hati datang pada-Nya dan penyembahan kita haruslah dari dalam lubuk hati kita.
Bagaimana memiliki roh yang menyembah? Menyembah dalam roh di dalamnya ada pengertian yang melimpah tentang dekat dengan Allah. Yakobus 4:8 mengatakan, “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.” Kita dapat mempunyai hari yang melimpah, yang menyembah dalam roh. Caranya adalah mula-mula diri kita harus diserahkan pada Roh Kudus. Sebelum kita dapat menyembah Allah dalam roh, Roh Kudus harus ada untuk mengasilkan penyembahan yang benar. I Korintus 2:11 mengatakan, “demikian pulalah, tidak ada orang yang tahu, apa yang terjadi di dalam diri Allah selain Roh Allah.” Jelas tampak dalam Yohanes 4:4 bahwa penyembahan yang benar hanya bisa dipersembahkan ketika, oleh kuasa Roh Kudus, roh kita sendiri menyembah Dia. Alkitab mengatakan bahwa Allah itu Roh, dan kita harus dibawa dalam dimensi-Nya untuk menyembah Dia sebagaimana yang Dia minta. Jadi, bila kita tidak membiarkan Roh Allah mendorong kita hati kita, memotivasi, menyucikan hati kita, kita tidak dapat menyembah Allah secara benar karena kita tidak mengenal Dia, hanya Roh Allah saja yang bisa melakukannya. “Tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: ‘Yesus adalah Tuhan’, selain Roh Kudus.” Dengan kata lain, tanpa Roh Kudus, seseorang tidak dapat sungguh-sungguh mengakui ketuhanan Kristus. Untuk menyembah Kristus sebagai yang mahakuasa, mahakudus memerlukan dorongan Roh Kudus. Dan Roh Kudus berkarya hanya setelah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi kita masing-masing. Barangkali tepat kesimpulan yang diungkapkan oleh Graham Kendrick, yang berbunyi: “Menyembah ‘dalam roh’ berarti menggabungkan diri ke dalam sumber pujian itu sendiri, yang tidak pernah kering, Roh Allah yang terus menerus menaikkan pujian, dan mengijinkan kebebasan-Nya bergabung dengan roh kita sendiri melalui pikiran dan tubuh kita untuk menyatakan keagungan Juruslamat kita Yesus dan kasih Bapa sorgawi.”
Selanjutnya, jika kita ingin menyembah Allah dalam roh, pikiran kita harus dipusatkan kepada Allah. Penyembahan adalah luapan dari pikiran yang diperbaharui oleh kebenaran Allah. Jadi, untuk menyembah dalam roh, kita harus mempunyai hati yang tidak bercabang.  Tanpa hati yang bulat, penyembahan tidaklah mungkin terjadi. Penyembahan dalam roh harus datang dari hati yang siap, hati yang tegas, hati yang pasti, hati yang hanya berpusat pada Allah. Dalam Mazmur 108 kita menemukan gagasan yang sama, ayat 2 mengatakan, “Hatiku siap, ya Allah, aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku.” Penyembahan dalam roh mengimplikasikan akan kondisi hati/ roh kita yang tidak bercabang, melainkan terfokus untuk Tuhan semata.
            Akhirnya, penyembahan dalam roh menuntut  kita untuk menyelesaikan dosa di hadapan Allah. Benar! apa yang pernah diungkapkan John Arthur, JR. “Kita harus menyembah Allah dengan hati yang penuh penyesalan.” Kita harus hidup suci, bersih, murni. Karena orang yang dapat masuk dalam hadirat Allah adalah orang yang dosanya telah diselesaikan. Kita tidak bisa masuk dengan semaunya saja, dengan ketidakmurnian di hadirat Allah. Arthur lebih jauh mengatakan,
“Mungkin alasan mengapa kita menemui kesulitan untuk sungguh-sungguh menghambakan diri dalam penyembahan Allah, alasan mengapa kita tidak mengalami kehadiran Allah, adalah bahwa kita mempunyai bidang-bidang dalam hidup kita yang tidak murni pada pandangan Allah. kita semua memiliki titik gelap dan cacat yang hanya diketahui Allah.”

Mazmur 139:23-24, Daud menulis, “Selidiki aku ya Allah, dan “kenallah hatiku”, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” Itu adalah pengakuan bahwa bahkan Daud sendiri tidak dapat memahami hatinya sendiri dengan sepenuhnya. Sebab itu, dalam penyembahan, seharusnya kita harus lebih dahulu terbuka, mau meminta kepada Allah untuk menerangi apa yang ada dalam bayang-bayang di dalam kehidupan kita. Kita harus menyerahkan roh kita pada Roh Kudus yang memenuhi hati kita dengan kehadiran dan kuasa-Nya, maka barulah luapan penyembahan dapat terjadi.

Menyembah Dalam Kebenaran
Yesus berkata bahwa kita juga harus menyembah dalam kebenaran, dengan demikian Ia menghubungkan penyembahan dengan kebenaran tanpa dapat dipisahkan. Penyembahan bukanlah suatu pengalaman emosi dengan firman Allah yang menimbulkan perasaan-perasaan tertentu. Penyembahan adalah tanggapan yang dibangun atas kebenaran. Kebenaran berasal dari Allah sendiri; ini bagian yang hakiki dari kharakter-Nya, dan karena itu, semua perkataan dan perbuatan-Nya mengandung dan berdasarkan kebenaran Ilahi. Jika penyembahan kita adalah untuk membuat suatu hubungan yang sungguh-sungguh nyata dengan Allah sumber kebenaran ini, maka hidup kita, pola pikiran dan kepercayaan kita harus sesuai dengan kebenaran mengenai Dia.

Firman Tuhan adalah Kebenaran 
Pilatus mengajukan pertanyaan yang sangat penting, “Apakah kebenaran itu?” dan Yesus menjawab dalam Yohanes 17:17 ketika ia berkata, “Firman-Mu adalah kebenaran.” Bila kita ingin menyembah dalam kebenaran, dan firman Allah adalah kebenaran, maka kita harus menyembah dengan pengertian yang benar akan firman Allah. Allah telah menyatakan diri-Nya di dalam Alkitab yang berpuncak pada penyataan yang paling nyata dari segalanya, yaitu pribadi Yesus Kristus. Ketika firman tersebut menerangi hati dan pikiran kita dengan cahaya supranatural Roh Kudus, maka kita akan dituntun ke dalam penyembahan yang benar. Yesus sendiri pernah menjanjikan dalam Yohanes 16:13, “Roh Kebenaran, akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran.”
Penyembahan dan kebenaran sejati di dalam firman Allah, tidaklah bisa terpisahkan satu dengan yang lainnya. Kebenaran adalah inti dari setiap penyembahan yang dilakukan oleh umat Allah. John Stott dalam bukunya Between Two Worlds, mengungkapkan demikian:
“Firman dan penyembahan tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Semua penyembahan adalah tanggapan yang disertai akal budi dan kasih terhadap penyataan Allah karena penyembahan adalah pemujaan terhadap nama-Nya. Oleh karenanya, penyembahan yang dapat diterima tidak mungkin tidak memperkenalkan nama Tuhan [bisa lewat khotbah, puji-pujian]. . . ketika firman Allah diuraikan secara terinci dalam kepenuhannya, umat mulai melihat kemuliaan dari Allah yang hidup, mereka sujud dengan rasa khidmat dan kagum yang membawa sukacita di hadapan takhta-Nya. Suasana penyembahan seperti ini dihasilkan oleh pemberitaan firman Allah dalam kuasa Roh Allah.”

Sekarang terlihat dengan jelas bahwa Kebenaran merupakan inti penyembahan; dan kalau kegairahan dan emosi yang membuat orang mendapatkan perasaan aman tanpa dihubungkan dengan kebenaran, maka hal itu tidak ada artinya.
Nehemia 8 menunjukkan kuasa firman Allah untuk mendorong orang-orang yang hatinya terbuka. Setelah Nehemia dan bangsa Israel menyelesaikan pembangunan tembok Yerusalem, mereka meminta Ezra membaca gulungan yang berisi firman Allah. Ezra membuka gulungan itu di hadapan semua orang dan segera semua orang berdiri pada waktu pemberitaan firman Allah diberitakan. “Lalu Ezra memuji Tuhan, Allah yang mahabesar, dan semua orang menyambut dengan: Amin, amin! Sambil mengangkat tangan. Kemudian mereka berlutut dan sujud menyembah kepada Tuhan dengan muka sampai ke tanah.” Jadi, sesungguhnya kebenaran firman Suci membuat umat sujud menyembah. Dan hanya firman Allah saja yang mampu melakukan itu dalam diri setiap orang yang menyembah kepada Allah tentunya dengan dorongan dan penerangan Roh Kudus dalam setiap pribadi penyembah-penyembah Allah. Jadi, menyembah di dalam kebenaran berarti menyembah menurut pernyataan Allah akan diri-Nya sendiri dan akan rencana-Nya bagi umat-Nya. Kita harus menyembah menurut kebenaran tentang Yesus, bahwa Dia adalah Juruslamat kita, Nabi, Imam dan Raja. Kebenaran ini harus senantiasa diingat dan dibangkitkan ketika kita melakukan suatu penyembahan di hadapan Allah. tetapi, jika penyembahan yang tidak diterangi, disegarkan dan dihidupkan oleh kebenaran Yesus, dengan segera akan menjadi lesu, membosankan, atau menjadi tidak terarah dan tidak nyata.
           
Encounter with God in Spirit and in Truth
Arthur menyimpulkan pendapatnya dengan menyatakan bahwa, “Semua penyembahan murni sesungguhnya adalah tanggapan sepenuh hati terhadap kebenaran Allah dan firman-Nya. Kebenaran adalah unsur objektif dalam penyembahan dan roh adalah unsur subjektif. Keduanya harus ada bersama-sama.” Penyembahan adalah ekspresi pujian yang keluar dari hari (roh) yang dapat diterima Allah bila dinyatakan dengan benar. Jadi, sifat dasar penyembahan adalah memberikan persembahan kepada Allah dari bagian diri kita “yang paling dalam”, dalam pujian, doa, nyanyian, memberi bantuan, dan prinsipnya adalah selalu berdasarkan kebenaran-Nya yang dinyatakan.
            Bila firman Allah menguasai hidup kita, maka pujian yang dinaikkan dihadapan Tuhan akan diatur berdasarkan patokan ilahi. Penyembahan dalam roh dan kebenaran adalah gabungan yang sempurna: emosi yang diatur oleh pemahaman, gairah yang diatur oleh firman Allah. penyembahan bukanlah hanya sebuah pengalaman yang luar biasa, tanpa arti dan isi. Penyembahan bukanlah sebuah perasaan senang terpisah dari pemahaman kebenaran firman Allah. Penyembahan dalam roh dan kebenaran adalah ekspresi pujian  yang keluar dari hati yang dapat diterima Allah, bila dilakukan dengan benar. Oleh karena itu orang yang akan menyembah Allah harus ada penyerahan yang setia pada firman Tuhan. Penyembahan adalah luapan dari pemahaman kita akan Allah sebagaimana ia telah menyatakan diri-Nya dalam Kitab Suci. Itulah penyembahan dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:24).
Akhirnya, hendaklah kita aminkan perkataan Paulus kepada jemaat Kolose, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayannya di dalam kamu, … sambil menyanyikan Mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.” Dengan keyakinan ini, maka kita sudah melakukan suatu penyembahan yang berkenan dan membawa kemuliaan bagi nama Tuhan sebab kita melakukannya berdasarkan kehendak-Nya, yaitu hati yang tulus berdasarkan tuntunan firman Allah sendiri.

IV.             Kesimpulan
Penyembahan Kristiani adalah suatu hal yang amat sakral dan penting. Dimana penyembahan itu sendiri menyangkut relasi pribadi dengan Allah Pencipta, Pribadi Yang Mulia, layak dipuji, Maha Kudus, Pencipta dan dengan segala atribut-Nya yang lain. Oleh sebab itu, penyembahan haruslah dilakukan di dalam roh yaitu hati kita yang terdalam yang menjadi titik perjumpaan antara manusia dengan Allah yang tentunya telah lebih dulu diubahkan oleh Tuhan, disucikan oleh Roh Allah, sehingga melaluinya kita bisa mengalami perjumpaan yang benar dengan Tuhan. Penyembahan juga haruslah penyembahan yang benar artinya haruslah sesuai dengan pemahaman yang benar akan firman Allah yang adalah kebenaran itu sendiri. Kita harus menyembah menurut kebenaran tentang Yesus, bahwa Dia adalah Juruslamat kita, Nabi, Imam dan Raja. Pada akhirnya, kedua hal ini haruslah dilakukan dalam ikatan yang selaras. Penyembahan adalah ekspresi pujian yang keluar dari hari (roh) yang dapat diterima Allah bila dinyatakan dengan benar. Kebenaran adalah unsur objektif dalam penyembahan dan roh adalah unsur subjektif. Penyembahan haruslah menjadi luapan dari pemahaman kita akan Allah sebagaimana ia telah menyatakan diri-Nya dalam Kitab suci. Itulah penyembahan dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:24).

Tidak ada komentar: